
Keyakinan adalah ”akar” dari suatu Pohon Sosial, yaitu sebagai landasan seseorang untuk bertindak berdasarkan pilihannya (Rokeach, 1973). Robinson dkk. (1991) mengemukakan bahwa keyakinan, dalam konsep Rokeach, bukan hanya pemahaman dalam suatu skema konseptual, tapi juga predisposisi untuk bertingkah laku yang sesuai dengan perasaan terhadap obyek dari keyakinan tersebut. Oleh sebab itu keyakinan dan tingkah laku saling berhubungan atau berkaitan.
Bila kami definisikan, keyakinan adalah nilai-nilai yang dipercayai atau di-iman-i oleh seseorang, untuk bersikap dan bertingkah laku.
Bentuk-bentuk Keyakinan
1. Tauhid
2. Trinitas
3. Mitologi
4. Fairytales
5. Atheis
6. Kapitalisme
7. Sosialisme
8. Komunisme
9. dll. (ideologi/kepercayaan lainnya)
Contoh-contoh bentuk keyakinan:
a. Keyakinan yang berdasar pada imtaq (Rukun Iman), masuk ke dalam sense suatu komunitas untuk menahan komunitas tersebut dari ancaman virus. Contoh: Tauhid
b. Keyakinan yang tidak ’menyerap’ imtaq, hanya berguna untuk mengendalikan / memiliki iptek saja. Contoh: Keyakinan yang ada di negara-negara Barat, Jepang, China, dsb. Contoh: Kapitalisme dan Komunisme
c. Tanpa sebuah keyakinan, komunitas hanya bergantung pada konsep diri, nilai moral, dan gaya hidup dari komunitas global. Contoh: Atheis
Tauhid
Keyakinan tauhid memiliki nilai-nilai imani, yang biasa disebut dengan Rukun Iman, yaitu:
1. Iman kepada Allah
2. Iman kepada Malaikat
3. Iman kepada Kitab Allah
4. Iman kepada Rasul
5. Iman kepada Hari Akhir
6. Iman kepad Qodha dan Qodhar
Fungsi Keyakinan sebagai “akar”, yaitu :
a. Sebagai penopang tegaknya suatu komunitas agar tidak mudah ”terkontaminasi virus.”
b. Sebagai sistem sosial – ekonomi
c. Menahan atau melindungi lingkungan dari ”erosi dan banjir” akan produk-produk kapitalisme
d. Tempat penyimpanan energi spiritual dan moral.
e. Menyerap iptek dan imtaq sebagai kebutuhan spiritual, emosi, dan intelektual, yg dilakukan oleh sistem nilai dan akidah yang telah terbentuk.
Situasi Penanaman dan Penguatan Keyakinan (belief) ada 2, yaitu:
1. Lembaga Keluarga / Dalam Rumah
Situasi yang menanamkan keyakinan akan Pedoman Hidup dan melindungi keyakinan anggota keluarga dari bahaya virus untuk menguatkan sebuah komunitas.
2. Lembaga Pendidikan (Formal maupun Informal)
Terdapat di setiap komunitas yang berguna untuk memberikan iptek, selain imtaq.
Setelah menyerap ke-”tauhid”-an, keyakinan akan membesar untuk memperkuat fondasi konstruksi dari suatu komunitas. Pembesaran keyakinan ini akan memberikan konsekuensi logis berupa tercipta satu sistem penyerapan keyakinan di komunitas.
Seiring membesarnya keyakinan suatu komunitas, daya serap akan konsep-konsep ”Pedoman Hidup”-nya pun semakin kuat (semakin banyak yang terserap).
Peningkatan / penguatan keyakinan terjadi di dalam pendidikan formal maupun informal (keluarga). Pendidikan memberikan materi berulang-ulang, membentuk keyakinan yang disadari maupun tidak, menyebar melalui lingkungan keluarga di masyarakat. Namun apabila tidak terjadi peningkatan atau penguatan keyakinan dalam suatu komunitas, maka keyakinan komunitas tersebut akan mudah terkontaminasi ”virus” keyakinan. Akar atau keyakinannya tidak akan mempengaruhi masyarakat, sebaliknya seluruh sistem sosial-ekonomi di dalam masyarakat akan langsung menyerap virus yang merusak ’akar’ beserta ’pohon sosial’ secara keseluruhan.
Keyakinan orang tua sangat mempengaruhi keyakinan anak. Apabila orang tua masih mempercayai dengan mengirim sms Reg. spasi ...., akan mempengaruhi anak menjadi percaya terhadap kekuatan lain selain Allah.
Iman kepada Allah di awali dari:
1. Penciptaan alam semesta dan sistem tata surya, galaksi dan ruang angkasa
2. Kehidupan di bumi: air, udara, dan zat-zat lainnya, hewan, tumbuhan dan cuaca / iklim, yang kesemuanya berguna bagi manusia.
Aspek Nilai
1. Dari keimanan kepada Allah, akan muncul nilai-nilai yang berasal dari sifat-sifat Allah, misalnya murah hati.
2. Keimanan kepada malaikat akan memunculkan nilai loyalitas
3. Iman kepada Kitab Allah memunculkan nilai learning
4. Iman kepada Rasul memunculkan nilai-nilai leadership
5. Iman kepada Hari Akhir, adalah pemahaman soal waktu
6. Iman kepada Qadha dan Qodhar adalah soal ikhtiar & sunatullah
Virus Akar:
1. Syirik-menyekutukan Allah
2. Malaikat berjenis kelamin perempuan
3. Ideologi/ajaran lain yang dijadikan panduan hidup
4. Idola baru
5. Tidak ada hari akhir
6. Hidup bebas berkehendak.
BATANG (Nilai-nilai moral dan Sikap/ ATTITUDE)
Fungsi Sikap Hidup (batang):
1. Tempat tumbuhnya konsep diri, sikap, dan perilaku
2. Tempat di mana imtaq dan iptek yang diserap disalurkan ke seluruh komunitas menjadi sistem kontrol sosial
3. Wadah pembinaan/ penyaluran minat, bakat, seni, dan kreatifitas
4. Pada batang (sikap hidup) ada bagian yang berfungsi untuk terus melangsungkan hidup yaitu lewat media (minimal bentuk Newsletter)
Bentuk-bentuk Sikap Hidup (batang)
No. SIKAP HIDUP
1 TEGUH KOMIT
ISTIQOMAH KONSISTEN
DISIPLIN
LOYAL
2 RENDAH HATI HUMBLE
BERSAHAJA
3 SABAR TEGAR ETOS
KERJA
OPTIMIS ULET
4 PEDULI SHARE MAU BERBAGI
MURAH HATI CARE
5 RELA BERKORBAN SEJAJAR
No. SIKAP HIDUP LAIN-VIRUS
1 INKONSISTENSI PERMISIF
INDISIPLIN
2 SOMBONG AROGAN
3 NAFSU MATERIALISM
HEDONISM
4 INDIVIDUALIS
5 PESIMIS PENGECUT
Komunitas sosial yang mempunyai konsep diri, nilai moral, dan sikap, yang berasal dari Pedoman Hidup yang benar, akan terus membesar sehingga dapat mempengaruhi sistem pendidikan (formal – informal), kontrol sosial, dan institusi yang baik. Komunitas seperti ini bisa juga disebut komunitas rahmatan lil alamin. Sedangkan komunitas sosial tanpa Pedoman Hidup yang benar akan menghasilkan buah masalah yang beragam.
SARANA dalam suatu komunitas:
1. Media komunikasi
2. Sistem sosial - ekonomi (kontrol sosial, pasar, arisan, dll.)
3. Lembaga-lembaga pendidikan (formal-informal)
4. Wadah untuk menyalurkan skills dari anggota komunitas
DAUN (PERILAKU)
Suatu perbuatan (say & do) atau perilaku yang lengkap, berisi:
a. Soul
b. Mind
c. Body
Sedang perilaku yang tidak lengkap tidak memiliki salah satu bagian tersebut.
Fungsi Perilaku = adalah untuk memberikan manfaat untuk si pelaku.
Setiap manusia memiliki akal dan qolbu, yang dapat menerima keimanan. Perilaku yang didasari akal dan qolbu bertugas menerima dan mengubah semua ciptaan Allah menjadi rahmatan lilalamin, dengan bantuan sistem pendidikan.
Bentuk Perilaku :
a. Benar
b. Cerdas / Cerdik
c. Menyampaikan
d. Amanah / dapat dipercaya
Virus Perilaku
a. Dusta / bohong
b. Bodoh
c. Pasif / Mendukung perbuatan maksiat secara tidak langsung
d. Khianat
CATATAN :
• Panca Indera (senses): digunakan untuk melakukan proses Tafakur
• Akal: ciptaan Allah bagi manusia untuk berpikir dalam bertafakur
• Tafakur: proses peningkatan ke-tauhid-an secara mandiri
• Iman: hasil ber-tafakur
• Islam: hasil proses peningkatan ke-iman-an
• Pokja: berasal dari komunitas sebagai fasilitator dengan pihak luar.
BUNGA : Potensi
Hasil dari keyakinan – sikap – perilaku suatu komunitas
Komunitas yang ideal terdiri dari :
a. Potensi diri
b. Aktifitas positif
c. Keindahan / kreatifitas / ciri khas
d. Suri tauladan
Komunitas ini yang disebut sebagai komunitas rahmatan lil alamin (Matanilam)
Fungsi Komunitas Matanilam:
Sebagai tempat terjadinya ”pengembangan komunitas”
Proses ”Pengembangan Komunitas”:
Jika ada ”pihak-pihak” di luar komunitas mendukung atau mengadopsi konsep Matanilam maka akan terjadi bentuk kerjasama yang seimbang, yang diikuti dengan hasil yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Kerjasama ini akan berkembang membesar, hingga menjadi rahmatan lil alamin.
BUAH (Hasil)
Hasil yang ingin dicapai adalah hasil se-maksimal-maksimal-nya. Berarti tidak semua potensi komunitas dapat menjadi rahmatan lil alamin..
Hasil yang ingin dicapai:
a. Memilih Pedoman Hidup
b. Mempelajari Pedoman Hidup
c. Melaksanakan Pedoman hidup
d. Paham Kiat-kiat
Fungsi hasil di atas: sebagai “ensikopedia” sekaligus “laboratorium hidup” di mana hasil pengembangan komunitas Matanilam diimplementasikan.
KELUARGA
Institusi (lembaga) terkecil dalam suatu komunitas, sebagai wilayah awal pembangunan komunitas.
Di dalam keluarga, terdapat calon pembentuk / pengembang komunitas baru.
